Nama : Satria Dewantara
Kelas : 1EA25
NPM : 16212869
Question :
6. He said, " I live on seventh avanue now. "
9. Tina said, " I am looking forward to having you as room mate. "
Answer :
6. He said that he lived on sevent avanue then
9. Tina said that she was looking forward to having you as room mate
Jumat, 12 April 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Karangan perfect tense
My mother want to visit my home at Saturday in the morning, but my home it's so untidy. When my mother arrived I had not washed my clothes and my mother so angry with me because I can’t keep my home to be tidy and clean
PAST PERFECT TENSE
Positif : S + Had + V3
Contoh : Dani had gone home when
steven arrived at the party.
Negative : S + Had + Not + V3
Contoh : I had not washed the clothes when she arrived.
Tanya : Had + S + V3
Contoh : Had Regi written the letter when she phoned
Jumat, 11 Januari 2013
Suku Sunda
Suku Sunda
adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia,
yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat,Banten, Jakarta, dan
Lampung. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda.
Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang
beragama kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan
masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan
dan masyarakat suku Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat
dikategorikan sebagai suku Sunda. Orang Sunda dikenal memiliki sifat
optimistis, ramah, sopan, dan riang. Karakter orang Sunda yang periang dan suka
bercanda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam cerita Sunda yaitu
Kabayan dan tokoh populer dalam wayang golek yaitu Cepot, anaknya Semar. Mereka
bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal. Orang
sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara
sejajar dengan bangsa lain.
Mayoritas
masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, dan berladang, ini disebabkan tanah
Sunda yang subur. Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang
berladang secara berpindah-pindah. Selain bertani, masyarakat Sunda seringkali
memilih untuk menjadi pengusaha dan pedagang sebagai mata pencariannya,
meskipun kebanyakan berupa wirausaha kecil-kecilan yang sederhana, seperti
menjadi penjaja makanan keliling, membuka warung atau rumah makan, membuka toko
barang kelontong dan kebutuhan sehari-hari, atau membuka usaha cukur rambut, di
daerah perkotaan ada pula yang membuka usaha percetakan, distro, cafe, rental
mobil dan jual beli kendaraan bekas. Profesi pedagang keliling banyak pula
dilakoni oleh masyarakat Sunda, terutama asal Tasikmalaya dan Garut. Profesi
lainnya yang banyak dilakoni oleh orang Sunda adalah sebagai pegawai negeri,
penyanyi, seniman, dokter, diplomat dan pengusaha.
Ø
Etimologi
Menurut
Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata sund
atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar,
terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno
(Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih,
suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada
(Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).
Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut
ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor
Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa
Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.
Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan
negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan
perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan
Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan
Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.
Ø
Hubungan antara sesama manusia
Hubungan antara
manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus
dilandasi oleh sikap “silih asih, silih asah, dan silih asuh”, artinya harus
saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga
tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan,
kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan, seperti tampak pada ungkapan-ungkapan
berikut ini:
§
Kawas gula jeung peueut yang artinya hidup harus
rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih.
§
Ulah marebutkeun balung tanpa eusi yang artinya
jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
§
Ulah ngaliarkeun taleus ateul yang artinya
jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan atau keresahan.
§
Ulah nyolok mata buncelik yang artinya jangan
berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud mempermalukan.
§
Buruk-buruk papan jati yang artinya berapapun
besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua
tentu dapat mengampuninya.
Ø
Hubungan antara manusia dengan negara dan
bangsanya
Hubungan antara
manusia dengan negara dan bangsanya, menurut pandangan hidup orang Sunda,
hendaknya didasari oleh sikap yang menjunjung tinggi hukum, membela negara, dan
menyuarakan hati nurani rakyat. Pada dasarnya, tujuan hukum yang berupa hasrat
untuk mengembalikan rasa keadilan, yang bersifat menjaga keadaan, dan menjaga
solidaritas sosial dalam masyarakat. Masalah ini dalam masyarakat Sunda
terpancar dalam ungkapan-ungkapan:
§
Kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara,
mupakat ka balarea (harus menjunjung tinggi hukum, berpijak kepada ketentuan
negara, dan bermupakat kepada kehendak rakyat.
§
Bengkung ngariung bongkok ngaronyok
(bersama-sama dalam suka dan duka).
§
Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju (memohon
pertimbangan dan kebijaksanaan yang seadil-adilnya, memohon ampun)
Ø
Rumah Adat
Secara
tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m - 0,8
m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua
usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter. Kolong ini sendiri umumnya
digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi,
kuda, atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan
sebagainya. Untuk naik ke rumah disediakan tangga yang disebut Golodog yang
terbuat dari kayu atau bambu, yang biasanya terdiri tidak lebih dari tiga anak
tangga. Golodog berfungsi juga untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam
rumah.
Ditilik dari
segi filosofis, rumah tradisional milik masyarakat Jawa Barat ini memiliki
pemahaman yang sangat mengagumkan. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang
Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Hampir di setiap bangunan
rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern
lainnya. Untuk penguat antar tiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari
ijuk ataupun sabut kelapa, sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah
menggunakan ijuk, daun kelapa, atau daun rumia, karena rumah adat Sunda sangat
jarang menggunakan genting. Hal menarik lainnya adalah mengenai material yang
digunakan oleh rumah itu sendiri. Pemakaian material bilik yang tipis dan
lantai panggung dari papan kayu atau palupuh tentu tidak mungkin dipakai untuk
tempat perlindungan di komunitas dengan peradaban barbar. Rumah untuk komunitas
orang Sunda bukan sebagai benteng perlindungan dari musuh manusia, tapi semata
dari alam berupa hujan, angin, terik matahari dan binatang.
Ø
Sistem Kekerabatan
Sistem keluarga
dalam suku Sunda bersifat bilateral, garis keturunan ditarik dari pihak bapak
dan ibu. Dalam keluarga Sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga.
Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi
adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda. Dalam suku Sunda
dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan
hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan
langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao,
canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua,
saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman,
bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga,
saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti
keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda
dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya
kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia.
Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.
Ø
Bahasa
Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu unda-usuk
bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain yaitu :
1. Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan
untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
2. Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik
usia maupun status sosialnya.
3. Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau
kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian, di Serang, dan Cilegon, bahasa Banyumasan (bahasa Jawa
tingkatan kasar) digunakan oleh etnik pendatang dari Jawa.
Sumber :
Sabtu, 27 Oktober 2012
TARI GAMBYONG
TARI GAMBYONG
Tari Gambyong ini merupakan salah
satu jenis tari pergaulan di masyarakat. Tari Gambyong ini merupakan suatu
tarian yang disajikan untuk menyambut tamu atau mengawali suatu resepsi
perkawinan. Ciri khas, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tari gambyong
akan terlihat indah dan elok jika sang penari dapat menyelaraskan antara
gerakan dan irama musik gendang. Karena, gendang sendiri umumnya disebut
sebagai otot tarian dan pemandu gendhing.
SEJARAH
Awal mula istilah Gambying
tampaknya berawal dari nama seorang penari taledhek. Penari yang bernama
Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di Surakarta. Penari ini
juga disebutkan dalam buku "Cariyos Lelampahanipun" karya Suwargi
R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang
bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda
pada zaman itu.Pada zaman dulu kala, yaitu pada zaman Surakarta.
GERAKAN DAN INSTRUMEN
Koreografi tari Gambyong sebagian
besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan dan kepala. Gerak
kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari
Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan
memandang jari-jari tangan ,menjadikan
faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada
saat sikap beridiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh
, pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah-langkah kecil), nacah
miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan
diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara
bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik
pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang
membuka karena mendhak bergerak ke bawah dan ke atas. Penggarapan pola lantai
pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangklaian gerak, yaitu pada saat
transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya.Sedangkan
perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu
srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada
rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran
mandheg).
Instrumen tarian gambyong
seperti gender, kendang, kenong, kempul,
dan gong. Keistimewaan Tari Gambyong memiliki daya tarik sangat kuat karena
estetika gerak-geraknya yang bersifat erotis. Motif-motif geraknya merupakan
gerak-gerak nonrepresentatif (tan wadhag) atau
gerak-geraknya sangat distilisasi sehingga dapat
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)